right issue

RIGHT ISSUE

image

Akhir-akhir ini dalam situs berita finansial dan bisnis sering menyebut kata right issue. So, apasih right issue itu?

Righ issue dibedakan menjadi dua Kata. Yaitu  “right” adalah bahasa Inggris yang artinya adalah “hak, sedangkan ” Issue” artinya “menerbitkan.” Jadi kalau diterjemahkan kata per kata dari bahasa Inggris, “right issue” artinya “menerbitkan hak.”
Right issue” adalah aksi korporasi yang dalam bahasa Indonesia disebut Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Yaitu hak yang diperoleh para pemegang saham yang namanya telah terdaftar dalam daftar pemegang saham suatu perseroan terbatas untuk menerima penawaran terlebih dahulu untuk membeli saham yang diterbitkan oleh emiten pada harga yang telah ditentukan dan dalam periode tertentu, apabila perusahaan sedang menjalani proses emisi.
Yang mendapat “right” adalah pemegang saham lama/investor lama yang memiliki saham sampai hari EX “right issue.” Right issue biasanya diberikan berdasarkan rasio. Misalnya rasio yang diberikan adalah 1:2 maka setiap pemegang satu lembar saham maka memperoleh dua hak untuk membeli saham yang baru akan diterbitkan.
Harga saham baru yang diterbitkan melalui proses right issue disebut sebagai harga right. Harga right ini biasanya lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar saham saat ini. Jadi bagi investor lama yang ingin menambah pembelian saham pada perusahaan tersebut akan memperoleh peluang untuk memperoleh harga saham yang lebih murah ketimbang yang mereka beli di Bursa Efek Indonesia.
Misalnya harga saham PT ABC diperdagangkan pada Rp1.000 per saham, lalu PT ABC akan menerbitkan saham baru dengan harga right Rp900 per right artinya investor hanya perlu membayar Rp900 per saham untuk satu saham baru.

TUJUAN RIGHT ISSUE
Pada umumnya adalah untuk menghimpun dana segar yang akan digunakan untuk ekspansi usaha, membayar pinjaman, atau untuk modal kerja.
Beberapa tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan porsi kepemilikan pemegang saham, atau untuk meningkatkan jumlah saham beredar sehingga lebih likuid perdagangannya.

berikut adalah beberapa alasan kenapa sebuah emiten di pasar modal melakukan right issue.
1. Untuk mendapatkan tambahan modal untuk ekspansi usaha, atau sekedar memperkuat struktur modal. Ini bentuk right issue yang terbaik.
2. bayar utang. Hati-hati kalau sebuah emiten menerbitkan utang dalam bentuk convertible bonds atau semacamnya. Biasanya utang seperti ini akan dibayar menggunakan saham yang diterbitkan kemudian.
3. Memberikan bonus kepada manajemen atau karyawan perusahaan, dalam bentuk saham. Right issue seperti ini biasanya tanpa HMETD
4. menambah kepemilikan saham pada anak usaha. Contohnya dulu ketika Bakrie & Brothers (BNBR) melakukan right issue sebesar Rp40.1 trilyun di tahun 2008, duitnya dipake untuk membeli saham-saham Bumi Resources (BUMI), Energi Mega Persada (ENRG), dan Bakrieland Development (ELTY).
5. nambah jumlah saham di market, agar lebih likuid, dan agar market cap perusahaan menjadi lebih besar. mirip dengan stocksplit, namun sekalian ngambil duit dari investor, sekaligus meningkatkan market cap perusahaan (jika harga sahamnya kemudian berhasil bertahan dari efek dilusi, tapi itu bisa diatur gan).

Hal yang harus diperhatikan Seputar right issue
1. harga eksekusi (pelaksanaan) dari right issue-nya, apakah mahal atau cukup wajar? Biasanya harga eksekusi ditentukan berdasarkan harga saham yang bersangkutan di market. Contohnya, saham A harga terbarunya Rp1,000. Sementara harga eksekusi right issue-nya Rp800. Dengan demikian harga eksekusi saham A adalah murah, karena lebih rendah dari harga pasar. Apakah benar demikian? Belum tentu, dan itu sama sekali bukan cara untuk menentukan apakah sebuah saham right issue termasuk murah atau mahal. Untuk menentukan valuasi dari harga right issue, terlebih dahulu kita harus menghitung harga teoritis. Dan cara menghitung harga saham secara teoritis pasca right issue, adalah sebagai berikut:

Diketahui.
Harga baru saham A : 1000
Harga eksekusi right issuenya: 800
Jumlah saham A: 1000 lembar
Saham yang baru diterbitkan: 500 lembar
Jawab:
Market cap awal = jml saham × harga saham
1000 × 1000 = 1 jt
Tambahan market cap= saham baru × harga right issue
500 × 800 = 400Rb
Harga total market cap = 1 jt + 400Rb = 1,4 jt
Jumlah total saham 1000+ 500 = 1500
1,4 jt/1500 = 933.3

Inilah harga saham pasca right issue secara teoritis, dan harga inilah yang kemudian bisa anda nilai menggunakan metode valuasi yang biasanya (PER-nya berapa, PBV-nya berapa, dll), sehingga diperoleh kesimpulan apakah right issuenya wajar atau mahal.

Jika harga Rp933 tadi ternyata masih wajar (misalnya PER-nya kecil, dan kinerja perusahaannya memang bagus), maka right issue tadi cukup layak untuk diambil. Tapi jika sebaliknya, maka anda bisa mempertimbangkan untuk keluar saja.

Valuasi ‘harga teoritis’ ini berguna untuk mencegah manipulasi tentang ‘harga murah’, hanya karena harga eksekusi right issuenya lebih rendah dari harga pasar. Sebagaimana anda ketahui, biasanya ketika sebuah emiten akan right issue, sahamnya dikerek dulu ke posisi yang cukup tinggi, agar harga right issue-nya menjadi tampak rendah. Misalnya saham A tadi, jika perusahaan berniat right issue-nya pada harga Rp1,200 per saham, maka saham A bisa dikerek dulu dari Rp1,000 menjadi Rp1,500, sehingga harga right issue-nya jadi tampak lebih murah dari harga pasarnya. Padahal kalau valuasi dari harga teoritisnya dihitung, maka bisa jadi harga tersebut sudah sangat-sangat mahal.
2. perhatikan efek dilusi yang mungkin (atau pasti) terjadi. Dalam hal ini, perhatikan jumlah saham baru yang diterbitkan, termasuk rasionya dengan jumlah saham lama. Saham baru yang diterbitkan masih bisa dianggap wajar jika jumlahnya maksimal sama dengan jumlah saham sebelum right issue. Contohnya jika saham emiten A di market berjumlah 1 milyar lembar, maka jika emiten A tersebut right issue saham baru pada jumlah maksimal 1 milyar, maka itu masih wajar, karena efek dilusi yang terjadi kurang lebih hanya 50%. Tapi jika emiten A melakukan right issue sampai 3 atau bahkan 5 milyar saham, maka mendingan cabut aja lah. Contoh emiten model gini adalah emiten-emiten anggota Grup Bakrie, dan Dayaindo Resources (KARK).
3. perhatikan pihak yang akan menjadi pembeli siaga dalam right issue tersebut. Right issue itu kan pada dasarnya sama seperti IPO, dimana jika saham baru yang diterbitkan tidak diserap oleh yang berhak (pemilik mayoritas, dan juga publik), maka saham baru tersebut akan dibeli oleh pembeli siaga. Nah, hati-hati jika sebuah perusahaan tidak dengan secara jelas mencatumkan siapa pembeli siaga dalam right issue-nya, atau lebih gawat lagi, pembeli siaganya memang tidak ada. Jika emiten mengatakan bahwa pembeli siaga right issue-nya adalah PT A, maka coba selidiki, siapa PT A tersebut. Sebab, saham hasil right issue tanpa pembeli siaga, atau yang pembeli siaganya tidak jelas, sangat mungkin akan dilempar begitu saja ke publik, dan itu akan menyebabkan harga saham di market menjadi jatuh berantakan, cepat atau lambat sesudah right issuenya.

4. perhatikan apakah right issue ini dengan atau tanpa HMETD (kalau anda belum ngerti apa itu HMETD, googling aja). Pada dasarnya, right issue yang baik adalah dengan HMETD, karena itu akan memberikan hak kepada pemegang saham publik untuk menambah modalnya di perusahaan yang bersangkutan. Biasanya kalau perusahaan melakukan right issue tanpa HMETD, tujuannya nggak begitu bagus buat investor, misalnya buat bayar utang.

Dampak “Right Issue”
“Right Issue” berdampak pada PERSENTASE kepemilikan saham.

Referensi
http://www.phillip.co.id/id/tips/19/Knowing-About-Rights-Issue

http://terusbelajarsaham.blogspot.co.id/2012/06/arti-right-issue-bursa-saham-indonesia.html?m=1

http://m.bareksa.com/id/text/2015/04/07/apa-itu-right-issue-apa-konsekuensinya-apakah-menguntungkan-bagi-investor/10050/saham

http://www.teguhhidayat.com/2011/11/seputar-right-issue.html?m=1

Standard